Realita Reality Show

Udah 2 bulan ini rutinitasku berubah, kalo bulan-bulan sebelumnya mantengin layar komputer, 2 bulan ini aku mantengin TV, secara aku sekarang sedang dalam masa-masa emas menikmati masa muda yang sayang untuk dilewatkan…hahahahaha…lebay gak sih? :p

Beberapa acara TV yang sedang mewabah adalah reality show, mulai dari yang anak ABG cari pacar, anggota keluarga ilang, ngebuntutin pacarnya selingkuh apa enggak, eksploitasi orang miskin dan macem-macem lainnya. Menghibur sih, kadang ya sedih juga liatnya…tapi apa iya semua itu bener-bener realita? Bukan rekayasa? Memang ada sisi sosialnya, misalnya membantu orang yang kesulitan mendapatkan pasangan…apalagi untuk karyawan di kota besar seperti Jakarta pasti hampir sebagian besar waktu mereka habis di tempat kerja, sehingga waktu untuk cari pasangan sangat minim. Dengan adanya reality show untuk mencari pasangan tentu sangat membantu mereka. Tapi kalo dilogika, waktu untuk bergaul aja gak punya kok punya waktu untuk shooting reality show sih?

Reality show juga berjasa membantu mencari anggota keluarga yang sudah lama gak ketemu atau lost contact, bahkan mencari anak yang diculik. Tapi apa bukan karena pengen nampang di TV aja ya, masak nyari orang ilang kok lapornya ke reality show bukan ke kantor polisi. Ya kalo begitu lapor tim reality show bisa langsung nyari, kalo kebetulan banyak orang yang lapor juga ke reality show, kan musti menyeleksi laporan-laporan itu. Trus kalo udah sekian bulan baru ditangani, trus kebetulan yang mau dicari udah (misalnya) meninggal…gimana tuh? Emang selama menunggu surat/email laporan itu direspon oleh reality show pelapor itu diem aja ya…gak bisa usaha sendiri apa? Padahal kalo dicermati, tim reality show ujung-ujungnya juga nanya semacem ini: Ada gak orang yang bisa dihubungin? Nelpon tu orang juga pake telponnya pelapor kan….ih gak modal banget sih reality show nya..

Belum lagi yang ngebuntutin pacar/suami/istri cuma pengen tau pasangannya selingkuh apa gak….ih emang gak malu ya masalah pribadinya diketahui orang banyak?! Lagian, kalo pun terbukti gak selingkuh, resiko si pasangan marah atau bahkan mutusin hubungan sangat besar, karena malu! Kasus yang ini sih menurutku gak ada sisi sosialnya.

Sisi sosial dari eksploitasi orang miskin, jelas ada…yaitu membantu mereka keluar dari kemiskinannya, misalnya rumah mereka yang reot disulap jadi rumah yang bagus dan dilengkapi dengan perabot rumah seperti TV, kulkas, dispenser, dll. Tapi bukannya itu malah menambah beban mereka? Pada waktu rumah mereka yang katakanlah hampir roboh dan selalu bocor kalo ujan, mereka cuma mikirin gimana caranya biar bisa makan. Tapi dengan rumah mereka yang udah jadi bagus dengan perabotan elektronik yang lengkap, selain mereka mikirin gimana caranya biar bisa makan, mereka juga terpaksa harus mikirin gimana caranya biar bisa bayar listrik….aduh nolong kok malah nambahin kesusahan, tulung menthung istilah jawanya.

Tapi acara-acara reality show yang makin variatif memang menjadi pilihan lain para penikmat acara TV, seenggaknya gak bosen liat sinetron yang itu-itu mulu..tapi jujur aja, reality show di negara kita ini agak lebay…hahahaha…ya iyalah, caleg-caleg aja lebay…

Udah ah, bentar lagi mau ada reality show yang orang miskin tukeran ma orang kaya itu lho…lucu cuy! Mo nonton ah…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s